Rabu, 20 November 2019

Mungkin ya, Mungkin Tidak


Dikutip dari buku berjudul "Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar" karya: Richard Carlson (hal. 174-176)

     Pada zaman dahulu, ada sebuah desa tempat seorang tua yang sangat bijaksana tinggal. Penduduk desa percaya bahwa orang tua itu selalu dapat menjawab pertanyaan mereka atau memecahkan persoalan mereka.

     Suatu hari, seorang petani di desa itu datang menemui orang tua yang bijak ini dan berkata dengan putus, "Pak tua yang bijaksana, tolonglah saya. Saya sedang mendapat musibah. Kerbau saya mati dan saya tak punya binatang lain untuk membajak sawah! Bukankah itu musibah paling buruk yang menimpa saya?" Orang tua itu menjawab "Mungkin ya, mungkin tidak". Petani itu bergegas kembali ke desa dan menceritakan kepada tetangga-tetangganya bahwa orang tua yang bijak itu sudah menjadi gila. Tentu saja inilah musibah terburuk yang dialaminya. Mengapa orang tua itu tidak melihatnya ?

     Namun, keesokan harinya, tiba-tiba muncul seekor kuda yang masih muda dan kuat di dekat tanah si petani itu. Karena tak punya kerbau lagi untuk membajak sawahnya, petani itu berpikir untuk menangkap kuda itu sebagai ganti kerbaunya dan akhirnya ditangkaplah kuda itu. Betapa gembiranya ia bisa kembali membajak sawah dengan bantuan kuda. Membajak sawah tak pernah menjadi semudah ini. Ia datang kembali ke orang tua itu dan meminta maaf, "Pak tua yang bijaksana, Anda memang benar. Kehilangan kerbau bukanlah musibah terburuk yang menimpa saya. Inilah rahmat terselubung bagi saya! Saya takan pernah mendapatkan kuda jika saya tidak kehilangan kerbau. Anda pasti setuju bahwa inilah hal terbaik yang pernah saya dapatkan." Orang tua itu menjawab sekali lagi "Mungkin ya, mungkin tidak". Lagi-lagi begini, pikir si petani. Pastilah orang tua yang bijak itu benar-benar gila sekarang.

     Tetapi, sekali lagi, si petani itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Beberapa hari kemudian, anak laki-laki si petani jatuh dari kuda yang sedang dinaikinya. Kakinya patah dan tak bisa lagi membantu ayahnya bertani. Sekali lagi, si petani itu kembali menemui orang tua itu, dan kali ini dia berkata "Bagaimana Anda bisa tahu bahwa mendapatkan kuda bukanlah sesuatu yang baik bagi saya? Anak saya terluka dan tak bisa lagi membantu saya bertani. Kali ini, saya benar-benar yakin bahwa inilah hal terburuk yang pernah menimpa saya. Sekarang pasti Anda setuju". Tetapi seperti yang terjadi sebelumnya, orang tua bijak itu dengan tenang menatap di petani dengan suaranya yang sejuk berkata sekali lagi "Mungkin ya, mungkin tidak". Karena seringnya mendengar jawaban yang sama dari orang tua itu, akhirnya si petani pun marah dan kembali ke desanya.

     Keesokan harinya, datanglah tentara yang bertugas mengumpulkan semua pemuda yang bertubuh sehat untuk dijadikan prajurit dalam perang yang baru saja meletus. Anak laki-laki si petani itu adalah satu-satunya pemuda yang tidak diikutsertakan . ia tetap hidup, sementara pemuda lainnya kemungkinan besar akan mati dalam peperangan.

     Pesan moral cerita ini merupakan pelajaran yang sangat bermanfaat. Kebenarannya adalah kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kita hanya berpikir kita tahu. Seringkali kita membesar-besarkan segala sesuatu. Pada sebagian besar kesempatan, kita salah. Bila kita tetap tenang dan tetap percaya bahwa akhirnya semua akan baik-baik saja.

Ingatlah : mungkin ya, mungkin tidak

Selasa, 25 Desember 2018

Dokumentasi Pentas Keliling

Penggambaran kehidupan manusia tertuang dalam sebuah pementasan teater.
     Teater TeraSS menggandeng Teater Empluk Jepara untuk bergabung dalam satu naskah "BULAN BUJUR SANGKAR" yang rencana akan dipentaskan ke berbagai kota. Salah satunya telah dilaksanakan di kota Jepara, yang berlokasi di Dewan Kesenian Jepara, pada tanggal 22 Desember 2018.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Dokumentasi pentasan kemerdekaan (19 agustus 2018)

     Desa Margoyoso, kecamatan kalinyamatan, kabupaten jepara turut serta memeriahkan peringatan kemerdekaan RI yang ke-73 yang berlangsung tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal 17 agustus sampai 19 agustus 2018...
     Pada kesempatan tersebut teater Empluk Jepara mendapat andil dalam pagelaran  malam puncak pada tanggal 19 agustus 2018.
     Berikut dokumentasinya:

Rabu, 03 Januari 2018

Sejarah Lampu Empluk

  Tradisi Baratan merupakan salah satu tradisi di Jepara selain tradisi perang obor di Tegal Sambi yang bisa dikembangkan menjadi potensi wisata.

Baratan dalam ingatan masa kecil adalah masyarakat menyebutnya badha Beratan. Saat itu belum setiap rumah memiliki listrik, oleh karena itu sejak sore hari, tiap-tiap rumah mempersiapkan lampu-lampu minyak yang terbuat dari tanah liat, yang disebut umplung atau Empluk.
Lampu tersebut dibeli dari perajin gerabah yang memang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Mayong Lor waktu itu. Lampu diletakkan berjajar di teras rumah dan di pagar halaman dan lampu-lampu lampion impes digantung di teras rumah. 
Impes adalah lampion berbentuk silinder dan berkerut, masyarakat menyebutnya impes karena bisa kempes atau mimpes dan dilipat.

Pada malam Baratan, anak laki-laki selepas shalat isya berkumpul di mushala atau masjid terdekat untuk kenduri, membawa makanan yang disebut puli (sejenis gendar). Kata puli konon berasal dari bahasa Arab yaitu afwu lii, yang berarti maafkanlah aku.

Puli terbuat dari bahan beras ketan dan bleng yang dikukus kemudian ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa parut yang dibakar atau tanpa dibakar. Para ibu saling berkirim puli buatannya. Setelah itu dengan berkelompok anak laki-laki berkeliling kampung menarik mobil-mobilannya yang telah diberi lilin menyala di dalamnya, sedangkan anak perempuan ikut berkeliling membawa impes dengan meneriakan yel-yel ritmis. Anak-anak berkeliling sampai larut malam. Saat itu malam Baratan adalah salah satu malam yang paling ditunggu-tunggu anak-anak.

Saat ini berpuluh tahun berselang, malam sudah terang benderang oleh listrik, keramaian dan aura tradisi tersebut banyak terkikis. Saat ini tradisi masih menyisakan mobil-mobilan kertas yang dulu sangat sederhana sekarang sudah sedemikan bagus, namun bukan untuk ditarik keliling kampung.
Lampu "Empluk" yang dulu menjadi primadona sebagai penerang kegelapan kini sudah hilang berganti dengan listrik. Bahkan Anak zaman sekarangpun tidak mengetahui apa itu lampu "Empluk".